PBB menyesalkan pemboman mematikan di ibukota Somalia

 

4 Oktober 2011 – Dewan Keamanan dan pejabat tinggi PBB mengutuk keras bom bunuh diri pada hari Selasa (4/10) di sebuah gedung kementerian di ibukota, Mogadishu, yang menewaskan puluhan orang dan melukai yang lainnya.

Laporan media menunjukkan setidaknya 70 orang tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka akibat ledakan itu. Ledakan itu terjadi ketika sebuah bom truk meledak di sebuah kompleks milik Pemerintah Federal Transisi (TFG) negara tersebut di kota bagian selatan.

Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon mengatakan beliau "terkejut" oleh serangan, yang menurut laporan korbannya termasuk siswa-siswi yang sedang berada di dalam kementerian pendidikan pada saat pengeboman.

"Hal ini tidak dapat dimengerti bahwa orang tidak berdosa menjadi target yang sangat tidak masuk akal," ujar pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara beliau, mengulangi panggilan Sekretaris Jenderal kepada semua pihak Somalia untuk meninggalkan kekerasan dan terlibat dalam dialog serta rekonsiliasi.

Serangan itu  "sangat mengerikan," tambahnya, datang pada saat para pemimpin politik Somalia telah bekerja sama untuk memetakan masa depan politik secara damai untuk Somalia.

Mengutuk serangan dalam istilah terkuat, Dewan Keamanan menegaskan kembali bahwa terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya adalah "kriminal dan tidak dapat dibenarkan, terlepas dari motivasinya, dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun dilakukan."

"Para anggota Dewan Keamanan menegaskan kembali dukungan penuh kepada Pemerintah Federal Transisi dalam upayanya untuk mencapai perdamaian, keamanan dan rekonsiliasi melalui Proses Perdamaian Djibouti, dan Misi Uni Afrika di Somalia (AMISOM)," ujar sebuah pernyataan yang dibacakan oleh Duta Besar Nigeria Joy Ogwu, yang menjabat sebagai presiden Dewan pada bulan Oktober.

Dewan menyatakan penghargaannya yang terus-menerus bagi komitmen pasukan AMISOM dari Burundi dan Uganda serta menegaskan kembali kutukannya atas semua tindakan kekerasan dan provokasi kekerasan terhadap warga sipil, AMISOM dan TFG.

Augustine Mahiga, Perwakilan Khusus Sekretaris-Jenderal dan Kepala Kantor Politik PBB untuk Somalia (UNPOS), mengeluarkan pernyataan yang menyuarakan kesedihan mendalam terhadap pengeboman yang "tidak masuk akal dan pengecut".

"Tindakan ini tidak dapat diterima. Pembunuhan warga sipil Somalia tidak dapat dibenarkan untuk alasan apapun, "ujar beliau.

Turut mengutuk serangan itu adalah Radhika Coomaraswamy, Perwakilan Khusus Sekretaris-Jenderal untuk Anak dan Konflik Bersenjata, yang menyebut pembunuhan anak adalah "kejahatan yang tak terkatakan."

"Anak-anak di Somalia menderita setiap hari melalui perang dan kelaparan. Mereka yang telah tewas dan terluka dulu berani mencoba untuk melanjutkan pendidikan mereka tanpa mempedulikan situasi di Mogadishu, "ujar beliau dalam sebuah pernyataan.

Kelompok militan Islam yang dikenal sebagai Al-Shabaab, yang anggotanya menarik diri dari Mogadishu pada bulan Agustus, dilaporkan telah mengaku bertanggungjawab atas serangan pada hari Selasa (4/10).

“Meskipun ekstremis telah meninggalkan ibukota, sangat sulit untuk mencegah serangan teroris seperti ini, yang secara konsisten kemungkinannya telah kita peringatkan akan terus meningkat," ujar Mahiga.

Wakil Khusus juga mengutuk serangan baru lainnya atau serangan yang dilakukan oleh Al-Shabaab, termasuk serangan di Dhusamareb di daerah pusat Somalia pada Senin malam (3/10) dan serangan terhadap Dhobley, dekat perbatasan Kenya.

Beliau menekankan adanya kebutuhan bagi kedua pihak untuk memperkuat pasukan keamanan nasional Somalia dan menyediakan sumber daya yang cukup untuk mendukung AMISOM.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengatakan pada hari Selasa (4/10) sangat prihatin dengan pertempuran dan memburuknya situasi di sekitar Dhobley, yang merupakan titik transit utama untuk rute Somalia ke kamp-kamp pengungsi Kenya Dadaab.

"Kami sangat takut akan kesejahteraan dan keamanan pengungsi Somalia yang kemungkinan terjebak dalam pertempuran saat melarikan diri melalui bagian dari negara ini," ujar Adrian Edwards, juru bicara UNHCR di Jenewa, memberitahu wartawan.

Badan ini menambahkan bahwa eskalasi kekerasan terbaru di Somalia selatan lebih memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah parah di negara itu.

"Kami mendesak semua kelompok bersenjata dan pasukan di Somalia untuk menghindari menargetkan daerah sipil dan  memastikan bahwa warga sipil tidak ditempatkan dalam bahaya," ujar Edwards.

Aktris Hollywood Angelina Jolie, Duta untuk UNHCR, saat ini mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan upayanya dalam berurusan dengan situasi di Tanduk Afrika, yang digambarkan sebagai generasi krisis kemanusiaan.

"Saat ini, tiga perempat juta orang berada dalam resiko kematian dalam empat bulan ke depan di Tanduk Afrika," ujarnya dalam pidato pada pertemuan tahunan badan pemerintahan UNHCR di Jenewa. "Pekerjaan yang kita lakukan memerlukan ukuran untuk memenuhi kebutuhan dari individu-individu ini."

Jolie diangkat sebagai Duta UNHCR pada Agustus 2001, dan sejak itu beliau telah melakukan lebih dari 40 kunjungan di seluruh dunia.

 

 

Diterjemahkan oleh Brenda Gracia