Ban bahas permasalahan global dengan pemimpin Australia

 

3 September 2011 - Sekretaris-Jenderal Ban Ki-Moon dan Menteri Luar Negeri Australia Kevin Rudd pada hari Sabtu (3/9) membahas tentang masalah kemanusiaan dan kelaparan di Somalia dan bagian benua Afrika lainnya, serta perkembangan situasi di Libya dan Syria, dalam sebuah perbincangan melalui telepon ke kediaman Menteri Luar Negeri di Canberra.

Diskusi mereka juga membahas mengenai hasil kerja Pertemuan Keberlanjutan Global milik Sekretaris-Jenderal, dimana Kevin Rudd merupakan anggotanya, dan pertemuan tingkat tinggi yang akan datang mengenai keamanan nuklir. Mereka juga membicarakan masalah kesehatan perempuan dan anak – anak yang akan diangkat dalam sidang Majelis Umum di New York bulan ini.

Pertemuan Tingkat Tinggi untuk Keberlanjutan Global yang beranggotakan 21 negara didirikan oleh Sekretaris-Jenderal pada Agustus 2009. Panel tersebut bertugas menemukan jalan untuk mengentaskan kemiskinan sambil menangani perubahan iklim, serta memastikan bahwa proses pembangunan ekonomi ramah terhadap lingkungan.

Ban, yang sedang melakukan kunjungan ke empat negara di kawasan Asia Pasifik -Australia, Selandia Baru, Kepulauan Solomon, dan Kiribati- mengungkapkan kegembiraannya bahwa Rudd sudah pulih dari operasi jantungnya baru – baru ini.

Pada pertemuan dengan Perdana Menteri Australia Julia Gillard di kemudian waktu, Ban memuji Australia untuk partisipasi aktifnya dalam komunitas internasional, dengan mengatakan bahwa Canberra bekerjasama dengan PBB untuk menghadapi tantangan global.

“Negeri Anda mungkin terletak jauh di Selatan,  tetapi ketika berbicara tentang kontribusi dan komitmen, Anda sungguh luar biasa.”

“Australia adalah salah satu negara pencetus Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan masyarakat Australia membantu merumuskan piagam PBB. Saya juga memiliki banyak catatan sejarah tetang bagaimana diplomat ternama Australia berkontribusi dalam penulisan Piagam, perlindungan HAM dan pemberdayaan perempuan. Bahkan Presiden Dewan Keamanan PBB yang pertama merupakan seorang warga Australia ternama, ” kata Ban.

Ia berterima kasih pada Australia untuk kepemimpinannya di berbagai aktivitas PBB, termasuk menjaga perdamaian, pembangunan global, dan pelucutan senjata nuklir.

 “Dukungan Australia kepada operasi kita di Timor-Leste tidak bisa dihapuskan. Australia berperan penting terhadap usaha penjaga perdamaian dari Afganistan ke Siprus, dimana Anda mencetak rekor operasi PBB terpanjang yang pernah dilakukan oleh suatu negara,” kata Ban.

Dalam hal bantuan luar negeri, Sekretaris-Jenderal mengungkapkan bahwa Australia meningkatkan kerjasama ketika banyak negara justru menarik diri.

“Saya berterima kasih untuk kontribusi yang dermawan kepada krisis kemanusiaan di Afrika dengan mendonasikan tambahan USD 10 juta,” beliau mengatakan.

Mengenai Libya, Ban sekali lagi mendesak komunitas internasional untuk mendukung negara Afrika Utara tersebut.

Beliau menekankan bahwa respon PBB terhadap situasi di Libya didasarkan pada 3 prinsip fundamental; respon cepat kepemilikan nasional, penyampaian dan koordinasi yang efektif.

“Saya mengandalkan Australia sebagai mitra penting dalam memenuhi harapan masyarakat dunia mengenai kebebasan, peluang, dan hidup dengan martabat yang layak bagi semua orang,” kata Ban.

 

Diterjemahkan oleh Brenda Gracia