Ban dan pemimpin Pasifik menghimbau pengurangan gas emisi rumah kaca secara “ambisius”

 

7 September 2011 - Sekretaris-Jenderal Ban Ki-Moon dan para pemimpin negara kepulauan Pasifik hari Rabu (7/09) memanggil untuk aksi internasional yang mendesak untuk mengurangi gas emisi rumah kaca, menekankan bahwa perubahan iklim masih menjadi salah satu dari banyak ancaman bagi keamanan, kehidupan, dan matapencaharian bagi orang-orang di kawasan.

Mereka “menekankan kebutuhan untuk sebuah pengurangan gas emisi rumah kaca secara ambisius cukup untuk memungkinkan kelangsungan dan kemungkinan hidup dari semua Negara berkembang di Kepulauan Pasifik (SIDS)” menurut pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Sekretaris-Jenderal dan pemimpin-pemimpin yang menghadiri Forum Kepulauan Pasifik di Auckland, Selandia Baru.

Selama pretemuan, Ban – pemimpin PBB pertama yang menghadiri pertemuan tahunan ini - dan pemimpin – pemimpin mendiskusikan tantangan kunci yang berhadapan dengan daerah, termasuk perubahan iklim, kemiskinan, dan pengangguran, serta menekankan peran PBB dalam membantu Negara-negara di kepulauan Pasifik. Ban mendapat kesempatan melihat langsung akibat dari naiknya permukaan laut dan negara yang dataran rendah pada kunjungan ke Kiribati, setelah sebelumnya terlebih dahulu tiba di Auckland. Beliau mendeskripsikan Kiribati sebagai “berada pada garis terdepan” dalam hal perubahan iklim, menyebutkan bahwa “air pasang yang tinggi menunjukan bahwa ini adalah waktunya untuk bertindak”

Beliau menyampaikan bahwa bahkan aksi sederhana berpergian dari daerah di New York telah memberinya sebuah pemahaman yang lebih baik atas tantangan yang dihadapi oleh para penduduk.

“Perjalanan ini membutuhkan waktu yang lama, menyeberangi ribuan mil. Jarak yang luas antara Anda dengan tetangga Anda tidak sebanding dengan kawasan lainnya, menciptakan sebuah tantangan dalam memasarkan produk-produk Anda ke pasar dan menikmat hasil perekonomiannya,” menurut Ban dalam sebuah dialog interaktif dengan para Pemimpin Pasifik

Selama kunjungannya ke kawasan, yang juga termasuk kunjungan ke Australia dan kepulauan Solomon, Skretaris-Jenderal telah menegaskan kebutuhan untuk menghimbau aksi internasional demi mengurangi emisi yang merusak dari gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Sebagai tambahan, beliau telah menggarisbawahi kebutuhan untuk membuat pendanaan adaptasi perubahan iklim tersedia untuk membiayai pelaksanaan program – program kritis untuk menghambat dampak dari perubahan iklim kepada komunitas disana.

Ban dan pemimpin negara kepulauan Pasifik juga menekankan betapa pentingnya pembangunan berkelanjutan, pengaturan dan konservasi dari sumber daya kawasan termasuk laut, hasil perikanan, serta memungkinkan negara kecil berkembang di kepualaun Pasifik (SIDS) untuk “menikmati bagian yang lebih besar dari keuntungan yang diperoleh dari sumber daya tersebut.”

Beliau memberitahu kepada para pemimpin bahwa prioritas utamanya adalah pembangunan berkelanjutan. “Tantangan kita adalah untuk menghubungkan semua titik–titik tantangan yang relevan - perubahan iklim, keamanan energi, keamanan pangan, ketersediaan air, penyakit yang menyebar, permberdayaan gender, dan banyak lagi...”

“Semua masalah ini saling berhubungan. Kita harus melihat mereka secara komprehensif, secara terpadu.”

Ban juga bertemu secara terpisah dengan para di forum, termasuk Presiden Marcus Stephen dari Nauru dan Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Murray McCully, dimana beliau mendiskusikan berbagai masalah seperti target anti kemiskinan yang dikenal dengan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) dan berbagai masalah kawasan.

Pada hari yang sama, Sekretaris-Jenderal melakukan perjalanan kembali ke Australia dalam perjalanan terakhirnya di Pasifik. Beliau menghadiri resepsi di Sydney yang diselenggarakan oleh pemerintah New South Wales, selama itu beliau memuji Australia untuk perannya selama beberapa dekade dalam hal pemberdayaan perempuan dan menghimbau Australia untuk mengjangkau mitra-mitranya di Pasifik untuk membasmi kekerasan terhadap perempuan.

“Para pejabat pemerintah bertindak kritis untuk mengakhiri kekerasan berdasarkan pada gender,” kata Ban. “Tetapi jika seorang pria memukul istrinya, orang paling tepat untuk menangani masalah tersebut mungkin adalah menteri setempat. Jika seorang anak perempuan berpikir dia lebih rendah daripada anak pria, orang yang paling tepat untuk menolongnya adalah gurunya. Dalam permasalahan ini, seperti permasalahan lainnya, kita perlu bersama – sama sebagai satu masyarakat, satu dunia. ”

Beliau juga memuji rencana Australia untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan dan anak–anaknya sebagai “salah satu yang paling berpikiran maju di dunia”

Pada hari Kamis (8/09), Sekretaris-Jenderal akan berbicara di Universitas Sydney dan kemudian menuju ibu kota, Canberra, untuk bertemu dengan Gubernur Jenderal Quentin Bryce serta bergabung bersama anak–anak sekolah untuk menanam pohon di National Arboretum.

 

Diterjemahkan oleh Brenda Gracia Susanto