Ban desak akademisi temukan solusi untuk kelaparan global, kemiskinan dan intoleransi

 

10 Agustus 2011 - Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon pada hari Rabu (10/8) mendesak komunitas akademis dunia untuk mencari solusi bagi masalah kelaparan global dan malnutrisi, menemukan berbagai ide untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan inklusif, serta meningkatkan toleransi dengan saling menghormati dan memahami.

“Anda semua tentunya menyadari bahwa penduduk di Tanduk Afrika tengah mengalami kelaparan. Sebuah kombinasi yang fatal antara konflik, tingginya harga bahan pangan, dan kekeringan membuat 11 juta orang membutuhkan bantuan darurat,” Ban mengatakan kepada peserta United Nations Academic Impact Forum di Seoul, Republik Korea.

“Bahkan walaupun kami telah merespons krisis tersebut, kami tetap harus mengatasi penyebab-penyebabnya. Kami harus fokus kepada pendekatan-pendekatan praktis – bibit tahan kekeringan,irigasi, infrastruktur pedesaan, program ternak; perbaikan dalam sistem peringatan dini,” Ban mengatakan kepada forum yang diadakan oleh Dewan Pendidikan Tinggi Korea dan Universitas Global Handong.

Academic Impact merupakan sebuah inisiatif global yang mensejajajarkan institusi pendidikan tinggi dengan PBB untuk secara aktif mendukung prinsip-prinsip universal, di antaranya HAM, melek huruf, keberlanjutan, dan resolusi konflik. Inisiatif ini diluncurkan secara formal di Markas PBB November tahun lalu, dan sejak saat itu, 670 institusi akademik dari 104 negara telah bergabung dalam inisiatif tersebut. 47 di antaranya berasal dari Republik Korea.

Ban mengatakan bahwa perdamaian, keadilan dan kehormatan di dunia tidak akan bisa dicapai jika jutaan orang masih terpaksa hidup dalam kemiskinan kronis.

“Kita harus fokus terhadap hubungan antara kelaparan, air, dan energi, sehingga solusi yang kita temukan dapat menjadi solusi bagi semua masalah. Komunitas akademik dapat membantu kami mencari korelasi tersebut,” beliau mengatakan, mendorong para akademisi untuk membawa ide-ide mereka ke Konferensi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan (Rio+20) di Brazil pada Juni tahun depan.

Menyangkut toleransi dan kebersamaan, Sekretaris-Jenderal menekankan bahwa komunitas akademik, yang memiliki tradisi pertukaran budaya yang panjang, bisa memberi contoh bagaimana hidup dengan saling menghormati dan pengertian.

“Di masa ketika ekstremisme dan polarisasi tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, kontribusi seperti itu sangatlah tepat.”

“Marilah kita maju bersama – pelajar, guru, pimpinan universitas, pemerintah nasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa – untuk menegaskan tujuan bersama kita dan kemitraan yang bisa berbuat banyak demi membangun dunia yang lebih baik,” Ban menambahkan.

Beliau mengatakan bahwa beliau percaya institusi yang tergabung dalam Academic Impact melakukan hal tersebut karena mereka meyakini adanya tanggung jawab sosial dari kaum intelektual, dan mereka bermaksud bekerja sama dengan PBB untuk membuat dunia menjadi “lebih bijak, aman, dan adil”.

Sekretaris-Jenderal mengatakan bahwa Academic Impact telah menelurkan sebuah cabang yang dikenal sebagai “ASPIRE” –Action by Students to Promote Innovation and Reform through Education – dan mengucapkan terima kasih kepada para pelajar atas keterlibatan mereka, termasuk ketika mereka menggalang dana untuk penanggulangan bencana di Haiti dan Jepang. “Pesan yang disampaikan jelas – tidak ada bidang studi yang tidak dapat berkontribusi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan orang-orang yang kami layani,” Ban mengatakan.

Beliau menekankan perlunya proses berbagi dan pertukaran pikiran untuk mempromosikan solusi kolektif terhadap masalah bersama, integritas riset, dan dukungan bagi kegiatan akademik.

Ban bertemu dengan perwakilan dari pebisnis Korea yang merupakan anggota dari Global Compact, sebuah inisiatif yang bertujuan mengembangkan praktek korporasi yang memiliki tanggung jawab sosial. Beliau berterima kasih kepada komunitas bisnis atas dukungan mereka kepada PBB dan mendorong mereka untuk lebih terlibat dalam mempromosikan keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan.

Beliau juga berunding dengan Ketua Majelis Nasional dan anggota dari Kelompok Kerja untuk Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) institusi tersebut.

Sekretaris-Jenderal juga bertemu dengan Yang Mulia Jaseung, Ketua Ordo Buddhisme Korea Jogye, dan menekankan pentingnya peran pemuka agama dalam membantu PBB mempromosikan perdamaian, pembangunan dan HAM.

Yang Mulia Jaesung mengabarkan Ban tentang rencananya berkunjung ke Markas Besar Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) di Paris untuk berdiskusi dengan Direktur-Jenderal Irina Bokova tentang bagaimana Ordo Jogye dapat berkontibusi dalam perkerjaan badan dunia tersebut. Sekretaris-Jenderal menyambut baik inisiatif tersebut.

Pada pertemuan dengan Presiden Lee Myung-bak dan Ibu Negara Kim Yoon-ok, Sekretaris-Jenderal berterima kasih kepada Pemerintah Republik Korea atas kontribusinya dalam pengiriman bantuan ke Tanduk Afrika. Beliau mengemukakan bahwa sebagai hasil dari pembangunan ekonomi dan demokratisasi di negara tersebut, komunitas internasional semakin memperhatikan kapasitas dan pengalaman Seoul dalam mengatasi tantangan global.

Berbicara dalam Yonhap International Photo Awards on MDGs, Ban menyerukan perlunya usaha lebih untuk memastikan pemberantasan kemiskinan global dan pemenuhan target pembangunan sosial pada tenggat waktu 2015.

Diterjemahkan oleh Anisa Menur