Ban sambut baik kesepakatan perubahan iklim di konferensi PBB di Durban

 

11 December 2011 – Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon [ada hari Minggu (11/12) menyambut baik keputusan yang dicapai oleh semua negara yang hadir pada Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim di Durban, Afrika Selatan, dan mengatakan bahwa ini mewakili sebuah perjanjian untuk bagaimana komunitas internasional akan menangani perubahan iklim di tahun-tahun mendatang.

Setelah perpanjangan negosiasi selama akhir pekan, Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) yang terdiri dari 194 anggota, yang dikenal dengan Durban Platform, termasuk meluncurkan sebuah protokol atau perangkat legal yang akan diterapkan oleh seluruh anggota, sebuah komitmen tahap kedua untuk Protokol Kyoto yang ada dan meresmikan Green Climate Fund.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh jurubicara Ban dalam perjanjian barunya “sangatlah penting untuk merangsang tindakan yang lebih besar guna meningkatkan tingkat ambisi dan untuk mobilisasi sumber daya terhdap tantangan perubahan iklim.”

Ban juga menyambut baik perjanjian untuk membentuk sebuah komitmen periode kedua dari Protokol Kyoto, menyatakan akan “meningkatkan kepastian untuk pasar karbon dan menyediakan insentif tambahan untuk investasi baru dalam teknologi dan infrastruktur yang diperlukan guna melawan perubahan iklim.”

Sebagai tambahan, Ban mengatakan bahwa beliau sangat senang setiap negara telah mencapai sebuah keputusan untuk menerapkan Perjanjian Cancun, yang dibentuk pada konferensi tahun lalu di Meksiko. Langkah-langkah baru termasuk membentuk Mekanisme Teknologi yang dapat memprokomiskan akses oleh negara-negara berkembang untuk membersihkan, teknologi karbon rendah, dan membentuk sebuah Komite Adaptasi yang akan melakukan kegiatan adaptasi pada tingkat global.

Ban juga menyambut baik peluncuran Green Climate Fund dan mengatakan sangat senang bahwa sejumlah memberkan isyarat niat baiknya untuk melakukan kontribusi. Dana dibentuk tahun lalu untuk membantu negara-negara berkembang melindungi diri mereka dari dampak iklim dan menciptakan masa depan mereka yang berkesinambungan, yang tetapi belum dilaksanakan, namun Ban mendesak negara-negara maju melalui konferensi yang berlangsung selama dua minggu untuk melakukan penyuntikkan dana yang diperlukan.

“Bersama, perjanjian-perjanjian tersebut mewakili suatu kemajuan penting dalam upaya kami menanggulangi dampak perubahan iklim,” menurut Ban, menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk “segera menerapkan keputusan-keputusan ini dan terus bekerja sama dengan semangat membangun yang tampak selama di Durban.”

“Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP)  juga menyambut perjanjian yang dibuat selama konferensi, dengan menekankan kepada langkah-langkah utama yang telah diambil, seperti proses negosiasi untuk “perjanjian yang baru dan lebih inklusif, serta pendirian Green Climate Fund.”

“Durban telah menghasilkan dorongan bagi aksi iklim global. Mereka mewakili tekad negara-negara untuk bekerja sama, yang terus berkembang dan seringkali tak terduga,” menurut Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner.

Bagaimanapun, UNEP juga menyatakan bahwa konferensi tersebut masih menyisakan beberapa tantangan serius dan mendesak jika kita bermaksud untuk mempertahankan kenaikan suhu bumi hanya sampai di bawah dua derajat Celcius pada abad ke-21.

“Pertanyaan besar yang akan ditanyakan oleh banyak pihak adalah bagaimana perjanjian ini dapat secara nyata mengurangi emisi karbon, dan kapankah hal itu akan dilakukan? Apapun jawaban yang akan muncul di beberapa bulan mendatang, Durban telah membukakan pintu bagi dunia untuk menghadapi perubahan iklim dengan berbekal ilmu pengetahuan dan akal, dan bukan oleh kebijakan politik semata,” kata Steiner.

Diterjemahkan oleh Anisa Menur