Ban tekankan pentingnya biayai usaha bantuan ke Tanduk Afrika

 

27 Juli 2011 – Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon menekankan kebutuhan untuk pembiayaan segera bagi pelaksanaan usaha kemanusiaan kritis di Tanduk Afrika dan membantu jutaan orang yang menderita karena kelaparan dan kekeringan di wilayah tersebut.

Dalam sambungan telepon pada hari Selasa (26/07) dengan pejabat tinggi Kuwait, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirates Arab, Ban mendiskusikan cepatnya situasi memburuk di daerah Tanduk Afrika, dimana sekitar 11.6 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Jutaan orang di Ethiopia, Djibouti, Kenya dan Somalia sedang menghadapi keadaan parah dalam hal kekurangan makanan dengan tingkat malnutrisi dan kematian yang terkait dengan hal tersebut sedang mencapai tingkat yang berbahaya di berbagai bagian dalam wilayah tersebut. Somalia merupakan negara yang mengalami dampak terburuk, dengan deklarasi PBB minggu lalu mengenai keadaan kelaparan dalam dua wilayah selatan negara tersebut.

Sekretaris-Jenderal menjelaskan kepada para pejabat bahwa hanya setengah dari $2 miliar dibutuhkan untuk menanggapi keadaan darurat akan kekeringan yang telah disiarkan sejauh ini.

 “Beliau menyerukan bantuan internasional yang mendesak untuk memenuhi celah dalam kebutuhan kemanusiaan bagi wilayah,” tutur juru bicara Ban, Martin Nesirky, pada wartawan di New York.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan pada hari Rabu (27/07) bahwa jumlah pengungsi dalam negeri (IDPs) yang berpindah dari pastoral menuju area kota meningkat di Somalia.

Program Pangan Dunia (WFP) telah meningkatkan operasinya untuk meraih 175,000 orang dalam wilayah Gedo, ketika Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mendistribusikan pasokan kepada 189,000 orang di Somalia selatan.

WFP juga menyediakan bantuan darurat sekitar 60,000 pastoral di Djibouti yang telah menderita kematian ternak dalam jumlah besar.

Kantor juga mengekspresikan kepedulian akan memburuknya situasi di Ethiopia, dimana 4.5 juta orang sedang membutuhkan bantuan pangan. Harga gandum di ibukota, Addis Ababa, lebih besar 80% dari tahun lalu, tutur kantor.

Diterjemahkan oleh Devi natasia