Dewan Keamanan sesalkan serangan terhadap kedutaan-kedutaan di Suriah

 

15 November 2011 – Anggota Dewan Keamanan pada hari Selasa (16/11) mengutuk keras serangan baru-baru ini terhadap kedutaan-kedutaan dan konsuler di Suriah dan mendesak otoritas pemerintah untuk melakukan kewajiban internasional mereka untuk melindungi properti dan personil diplomatik dan konsuler. 

Laporan media mengatakan bahwa demonstran pro-Pemerintah menyerang kedutaan-kedutaan dan konsulat-konsulat di beberapa kota, termasuk di ibukota, Damaskus, menyebabkan kerusakan serius pada bangunan-bangunan.

 

Serangan ini merupakan respon dari keputusan Liga Negara-negara Arab untuk menangguhkan keanggotaan Suriah hingga otoritas mengakhiri tindakan kekerasan mereka terhadap demonstran anti-Pemerintah. Lebih dari 3,500 orang telah tewas sejak pemberontakan sejalan terjadi di seluruh negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah, dimulai di awal tahun ini.

Dalam sebuah pernyataan pers dikeluarkan pada hari Selasa (16/11), 15 anggota Dewan Keamanan mengutuk serangan-serangan tersebut, menyatakan bahwa kejadian tersebut mengakibatkan gangguan bagi tempat diplomatik.

Dewan Keamanan “menegaskan kembali prinsip mendasar diplomatik dan tempat konsuler yang tidak dapat diganggu gugat dan kewajiban pemerintah tuan rumah, termasuk di bawah Konvensi Wina 1961 mengenai Hubungan Diplomatik dan Konvensi Wina 1963 mengenai Hubungan Konsuler, untuk mengambil semua langkah yang tepat dalam melindungi tempat diplomatik dan konsuler dari gangguan atau kerusakan apapun dan mencegah gangguan terhadap misi-misi perdamaian atau perusakan martabat mereka,” tutur sebuah pernyataan.

Sementara itu, menjawab sebuah pertanyaan wartawan di Bangladesh, dimana beliau sedang melakukan kunjungan resmi, Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon menekankan “hal terpenting sekarang bahwa Presiden [Bashar] al-Assad harus segera menghentikan pembunuhan” terhadap rakyatnya sendiri dan melaksanakan sepenuhnya perjanjian sebelumnya dengan Liga Negara-negara Arab yang dimaksudkan untuk mengatasi krisis.

Ban mengatakan bahwa beliau berkomunikasi dekat dengan Liga Arab dalam upaya menghentikan pembunuhan dan meredakan ketegangan.

“Hal ini merupakan bukti keprihatinan besar, tidak hanya untuk wilayah ini, tetapi untuk seluruh komunitas internasional, untuk demokrasi dan kemanusiaan,” tutur beliau.

 

Diterjemahkan oleh Marita Kurniasari Permata Dewi