Dukungan Internasional Diperlukan untuk atasi malnutrisi di Niger – UNICEF

 

21 Juli 2011 – Pemerintah Niger membutuhkan dukungan internasional untuk menghadapi masalah gizi buruk yang mengkhawatirkan, sekaligus mengatasi penyebab-penyebabnya, menurut Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF).

Badan dunia tersebut menyatakan dalam sebuah siaran pers pada hari Rabu (19/07) bahwa lebih dari 15 dari 100 anak mengalami gizi buruk yang akut, seperti yang digambarkan dalam Survei Nutrisi Nasional yang diterbitkan bulan Juli ini.

Prevalensi global acute malnutrition (GAM) di antara anak-anak balita di Niger telah kembali ke tingkat yang sama dengan yang dicapai pada Juni 2009 -12.3 persen- mengindikasikan penurunan hingga lebih dari tiga poin (16.7 persen) dari survei terakhir yang dilakukan pada bulan November.

“Walaupun demikian, dalam tujuh dari delapan kawasan di negara ini, status nutrisi ini masih di atas ambang batas darurat, yaitu 10 persen,” UNICEF menyatakan.

Survei mengemukakan bahwa anak-anak usia enam hingga 23 bulan merupakan bagian terbesar dari beban nutrisi, dengan satu dari lima anak terserang GAM dan 4.2 persen dari mereka mengalami severe acute malnutrition (SAM), bentuk paling parah dari malnutrisi.

UNICEF menyatakan bahwa angka-angka ini telah menurun jika dibandingkan dengan Juni 2010, tetapi masih jauh di atas angka yang berlaku pada Juni 2009 sebelum krisis pangan dan nutrisi yang serius melanda negara ini.

Survei tersebut mengemukakan peringkat gizi buruk kronis yang ‘tidak bisa diterima’ untuk semua kelompok umur, yang mengikuti tren peningkatan hingga lima poin ke 51 persen pada Juni 2011.

“Prevalensi dari bentuk gizi buruk ini, membahayakan perkembangan psikologis anak, menggambarkan efek kumulatif dari berbagai episode gizi buruk pada anak, dan mengemukakan keharusan untuk bertindak cepat mengatasi penyakit ini dengan memberikan pola makan yang sehat tidak lama setelah bayi dilahirkan,” UNICEF menyatakan.

Gizi buruk memiliki konsekuensi yang mendalam: meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas, serta prestasi akademik dan produktivitas yang rendah, menurut Dr. Maimouna Guéro, direktur bagian nutrisi di Kementrian Kesehatan Umum di Niger.

Beliau mengadvokasi praktek-praktek seperti memberikan ASI ekslusif mulai dari satu jam pertama sejak bayi dilahirkan hingga usia enam bulan, yang diungkapkan UNICEF sebagai cara yang ‘gratis, murah, dan efektif’ untuk memulai kehidupan seorang anak.

Hanya 27 persen dari ibu di Niger yang memberikan ASI eksklusif hingga usia enam bulan, menurut survei terbaru mengenai harapan hidup anak yang dilakukan pada tahun 2010.

Diterjemahkan oleh: Anisa Menur