Filipina: PBB dan mitra ajukan tambahan USD 28 juta untuk bantu korban badai

 

22 Desember 2011 – Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mitra kemanusiaannya mencari tambahan  USD 28.6 juta dari jumlah yang sebelumnya telah diajukan awal bulan ini untuk membantu korban badai tropis Sendong di Filipina selatan.

Revisi darurat dari the Philippines (Mindanao) Humanitarian Action Plan 2012 bermaksud menyediakan air bersih untuk minum dan mandi, makanan, tempat tinggal darurat dan keperluan rumah tangga dasar untuk 471.000 orang di utara Mindanao selama tiga bulan.

Pengajuan tersebut juga meliputi pembersihan reruntuhan untuk mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan yang mungkin timbul, sekaligus memastikan bahwa program penyelematan dapat diantarkan kepada yang membutuhkan dengan lancer. PBB dan mitra kemanusiaannya bekerja keras untuk mendukung upaya pemerintah. Walaupun demikian, kebutuhan di lapangan melampaui batas kemampuan.

Pengajuan tahap awal, yang diluncurkan minggu lalu, memohon dicairkannya USD 38 juta untuk bagian tengah Mindanao. Tetapi, setelah Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan  (OCHA) melakukan survey lebih lanjut terhadap keadaan di lapangan, pengajuan tersebut direvisi dengan tambahan dana USD 28 juta untuk membantu daerah utara Mindanao dan terutama kota Cagayan de Oro dan Iligan.

Koordinator Residensial dan Kemanusiaan di negara tersebut, Soe Nyunt-U, yang telah kembali dari kunjungan selama dua hari di kota-kota tersebut pada hari Rabu (21/12), menyatakan bahwa beliau dikejutkan oleh skala kerusakan yang dilihatnya.

“Seakan-akan kota-kota tersebut dihantam oleh tsunami darat,” beliau mengatakan. “Seluruh area diratakan oleh tanah, hanya ada beberapa bangunan yang kokoh yang bertahan, dan merekapun mengalami kerusakan yang parah. Reruntuhan rumah, gedung dan bangunan lainnya yang dihancurkan oleh badai telah hanyut ke laut, meninggalkan suatu area yang luas yang tidak memiliki tanda-tanda kehidupan.”

Menurut data terakhir yang dirilis oleh Pemerintah Filipina, lebih dari 1.060 orang meninggal atau hilang dan 28.030 rumah telah rusak atau hancur. Selain itu, lebih dari 43.600 orang berlindung di 51 pusat evakuasi dan 266.000 orang tinggal bersama keluarganya atau di tempat seadanya. Angka tersebut dipastikan akan naik dengan semakin tersedianya data.

“Kebaikan yang berdatangan dari rakyat Filipina telah menyelamatkan banyak nyawa,” menurut Soe, menambahkan bahwa “PBB dan mitra kemanusiaannya bekerja sangat keras untuk membantu upaya penyelematan yang dilakukan pemerintah.

Badan PBB telah meningkatkan upaya penyelamatan mereka di negara tersebut dalam beberapa hari ini, termasuk diantaranya Program Pangan Dunia (WFP), Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF).

UNICEF mengatakan bahwa mereka memprioritaskan penyediaan air bersih  kepada anak-anak mengingat sistem saluran air di Cagayan de Oro dan Iligan mengalami kerusakan, sehingga penduduk tidak memiliki sumber air yang bersih dan aman.

“Kurangnya air bersih dan fasilitas sanitasi merupakan masalah utama saat ini, karena seperti yang kita ketahui anak-anak sangat rentan terhadap diare dan dehidrasi,” menurut  Anselme Motcho, kepala kantor UNICEF di Filipina. “Kami juga memantau keamanan anak-anak di pusat evakuasi yang terlalu ramai,” beliau menambahkan.

OCHA menyatakan dalam sebuah siaran pers bahwa rencana respons bantuan kemanusiaan akan direvisi dalam enam minggu ke depan agar dapat merefleksikan kebutuhan bantuan di lapangan.

 

Diterjemahkan oleh: Anisa Menur