![]() |
|
Investasi SDM cara paling cerdas berantas kemiskinan, menurut PBB |
||||
17 Oktober 2011 - Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon pada hari Senin (17/11) mengingatkan bahwa kemajuan yang telah diperoleh dalam proses pemberantasan kemiskinan terancam oleh kegagalan menjadikan rakyat sebagai pusat dari kebijakan dan strategi pembangunan yang bertujuan memulihkan dampak krisis finansial global. “Kita tidak bisa menghentikan investasi sumber daya manusia demi penghematan semata,” menurut Ban dalam sebuah pesan untuk Hari International Pemberantasan Kemiskinan, mengemukakan bahwa terlalu banyak orang dihantui ketakutan kehilangan pekerjaan, kemampuan mereka untuk memberi makan keluarga, dan akses perawatan kesehatan. “Kita bisa menghadapi tantangan yang ada –krisis ekonomi, perubahan iklim, meningkatnya harga pangan dan energi, efek bencana alam. Kita bisa menaklukan mereka dengan menjadi rakyat sebagai fokus usaha kita.” Beliau mengemukakan bahwa dalam perdebatan mengenai masa depan, seringkali suara masyarakat miskin dan kaum muda tidak dihiraukan, begitu juga masalah-masalah lingkungan hidup. |
||||
“Sementara kita berusaha menghindari kekacauan finansial global, kita juga harus berusaha menghindari kemerosotan pembangunan global,” kata Ban. Beliau menyerukan usaha lebih keras untuk meningkatkan pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), serangkaian target pengentasan kemiskinan yang telah disepakati oleh pemimpin dunia untuk dicapai pada 2015. “Malaria bisa dihentikan. AIDS bisa dikurangi. Jutaan ibu bisa diselamatkan dari kematian pada saat melahirkan. Investasi hijau dapat menumbuhkan pekerjaan dan pertumbuhan,” menurut Sekretaris-Jenderal. “Sekaranglah saatnya kita mendorong lebih kuat untuk memenuhi target Tujuan Pembangunan Milenium. Bersama, mari kita dengarkan suara rakyat – dan bangkit demi harapan dan aspirasi mereka. Dengan begitulah kita dapat membangun dunia yang bebas dari kemiskinan.” Pakar independen untuk masalah kemiskinan dan Hak Asasi Manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Magdalena Sepúlveda, menyerukan Negara-Negara untuk segera mengatasi ketimpangan yang terus membesar antara yang kaya dan yang miskin, dengan menyatakan bahwa kesenjangan tersebut diperburuk oleh upaya-upaya penghematan yang dijalankan demi memfasilitasi perbaikan ekonomi. “Ketidaksetaraan yang meningkat ini telah melenyapkan kohesi sosial dan meningkatkan rasa tidak aman dan ketertutupan di seluruh dunia,” menurutnya dalam pesan tersebut. “Jika ini terus berlanjut, maka konflik dan keresahan sosial akan meningkat, seperti yang terlihat beberapa bulan ini.” “Sementara Negara-negara berusaha membangun kembali dunia bisnis dalam rangka perbaikan pasca-krisis, krisis finansial dan ekonomi masih terasa oleh mereka hidup di garis kemiskinan,” menurut Sepúlveda. “Dengan tingkat seperti sekarang ini, akan butuh lebih dari 800 tahun bagi jutaan penduduk dunia yang miskin untuk mencapai 10 persen dari pemasukan global.” Beliau mengemukakan sangatlah jelas bahwa kaum miskin dan terpinggirkanlah yang harus menanggung beban terberat dari krisis finansial, sementara pemasukan bagi kalangan atas terus meningkat di negara-negara yang terpengaruh krisis paling buruk. Di Amerika Serikat misalnya, enam juta orang telah jatuh miskin sejak 2008, dan satu dari tujuh orang sekarang hidup di bawah garis kemiskinan, lebih banyak dari tahun berapapun selama lima dekade ini, beliau mengemukakan. “Ironi yang menyedihkan adalah mereka yang diuntungkan dari pembangunan dan pertumbuhan ekonomi sebelumnya pada dasarnya adalah mereka yang telah lebih mapan secara ekonomis, dan yang mengalami penderitaan paling berat sebagai akumulasi dari krisis-krisis tersebut adalah mereka yang miskin dan terpinggirkan dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk diantaranya orangtua tunggal, lansia, etnis minoritas, penyandang cacat dan migran,” Sepúlveda mengemukakan. “Yang dibutuhkan adalah langkah-langkah perbaikan yang adil, yang didampingi perlindungan HAM dan dirancang dengan pendekatan dari bawah ke atas, dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang terpinggirkan secara spesifik.” Diterjemahkan oleh Anisa Menur |
||||
|
||||