Kepala UNESCO tekankan perlunya inovasi untuk pastikan pendidikan berkualitas

 

10 Januari 2012 – Kepala badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas memperjuangkan pendidikan pada hari Selasa (10/1) menekankan peranan yang dimainkan teknologi informasi dan komunikasi dalam memastikan pendidikan berkualitas dan kesempatan yang setara, bahkan di negara-negara yang memiliki sumber daya terbatas.

“Kemajuan bukan hanya persoalan keuangan – tetapi juga menyangkut kecocokan. Kecocokan antara kapasitas dan kebutuhan,” Irina Bokova, Direktur-Jenderal Organisasi PBB untuk Pendidikan, Pengetahuan dan Budaya (UNESCO), mengatakan kepada para delegasi Pertemuan Global Menteri Pendidikan yang saat ini tengah berlangsung di London.

“Ini berarti kita harus memaksimalkan inovasi, terutama dio bidang teknologi. Ini berarti kita harus membangun kemitraan yang inovatif dengan sektor swasta, seperti Aliansi Global Mitra Korporat untuk Pendidikan yang akan kita dirikan tahun ini,” Bokova mengatakan kepada forum, yang bertemakan ‘Learning from the Best for a World of Change.’

Beliau menekankan perlunya menjadikan pendidikan sebagai “kekuatan transformasional dari martabat manusia,” sekaligus sebagai sebuah perubahan sosial, ekonomi, dan politik.

“Di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi, pesan ini menjadi begitu penting,” Bokova menambahkan. Generasi muda membutuhkan pendidikan yang melengkapi mereka dengan keahlian modern dan memandfaatkan teknologi baru dalam pasar tenaga kerja, beliau mengatakan.

“Teknologi dapat melipatgandakan dampak pendidikan –tetapi, untuk dapat meraihnya, teknologi bharus dapat diintegrasikan dengan proses belajar dan didampingi gaya mengajar baru. Di banyak negara, ini merupakan suatu panggilan untuk beralih ke sistem pembelajaran yang interaktif dan bersifat project-based,” beliau mengatakan.

Beliau mengemukakan bahwa UNESCO berusaha untuk meningkatkan keahlian para guru dan meningkatkan standar kompetensi melalui proyek ‘Rangka Kerja Kompetensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Guru’, yang merupakan buku petunjuk bagi pendidik untuk memanfaatkan teknologi demi memperbaiki proses belajar-mengajar.

“Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan sangat bergantung kepada kemampuan guru mengintegrasikan teknologi tersebut dalam proses belajar-mengajar,” menurut beliau, menekankan bahwa rangka kerja UNESCO merupakan bagian utama dari visi untuk menyediakan kepemimpinan global dalam pelatihan guru.

Rangka kerja ini, yang dapat diunduh dari situs web UNESCO, merupakan hasil kolaborasi antara sektor swasta, seperti Cisco, Intel, dan Microsoft, sekaligus juga International Society for Technology in Education dan pakar dari Commonwealth of Learning.

“Saya yakin bahwa kemitraan sektor public dan swasta merupakan sebuah bentuk baru ‘kekuatan sipil’ yang dapat membentuk abad ke-21,” beliau mengatakan.

Beliau juga menekankan perlunya pendidikan yang dapat membantu membangun masyarakat madani dengan mengajarkan good citizenship dan penghormatan terhadap HAM. Beliau mengumumkan bahwa minggu depan UNESCO akan meluncurkan sebuah inisiatif dengan Amerika Serikat mengenai mengajarkan hormat pada semua orang – sebuah kurikulum mengenai toleransi dan anti-rasisme.

Mengenai penerimaan siswa sekolah dasar, Bokova menyatakan bahwa walaupun terdapat kemajuan pesat sejak 2000, dunia masih belum dapat memenuhi target pendidikan dasar universal pada 2015.

Ada 67 juta anak yang putus sekolah dari sekolah dasar pada 2007, dan terdapat jumlah yang serupa terhadap remaja di sekolah menengah. Diperkirakan 793 juta orang dewasa di seluruh dunia masih mengalami buta huruf – dua pertiga diantaranya kaum perempuan.

Diperlukan tambahan 1.9 juta guru untuk dapat mencapai pendidikan dasar universal pada 2015, beliau menambahkan.

Diterjemahkan oleh Anisa Menur