Majelis Umum membuka sesi baru dengan permohonan untuk bersatu mengatasi krisis global

 

13 September 2011 – Majelis Umum hari Selasa ini (13/09) membuka sesi tahunan dengan semangat untuk memohon kerjasama dalam mengatasi krisis yang membayangi, mulai dari konflik sampai perubahan iklim, dan mengenang salah seorang mantan Sekretaris-Jenderal sebelumnya yang meninggal 50 tahun yang lalu dalam misi perdamaian.

“Bergerak kedepan dalam permasalahan yang besar sebelum kita memerlukan kerja keras, integritas, dan kemitraan,” kata Presiden Majelis ke-66 Nassir Abdulaziz Al –Nasser dari Qatar, yang juga didedikasikan untuk mengenang Dag Hammarskjöld yang tewas dalam kecelakaan pesawat di tahun 1961 ketika sedang membawa perdamaian kepada negara yang baru lahir, sekarang dikenal sebagai Republik Demokrasi Kongo (DRC).

“Keadaan sedang berubah. Kita punya kesempatan yang unik untuk membentuk perubahan dan meyakinkan bahwa babak baru kita akan menjadi lebih aman untuk hal yang paling rentan, lebih sejahtera bagi mereka yang membutuhkannya, dan lebih ramah terhadap bumi.”

Beliau menguraikan empat area fokus utama untuk sesi tahun ini. Yang pertama adalah perdamaian penyeselesaian sengketa, sebuah kebutuhan yang kini menjadi semakin mendesak dibandingkan sebelumnya. “Ini adalah pandangan saya bahwa Majelis Umum, seharusnya melalui revitalisasi, dapat semakin terlibat dan berwenang dalam permasalahan mediasi, jadi Majelis Umum bisa memenuhi perannya sebagai pembawa perdamaian dunia di saat genting dalam hubungan internasional,” ujar beliau.

Beralih ke reformasi PBB, Al-Nasser memanggil untuk merevitalisasi kerja Majelis supaya dapat tetap efisien, efektif dan representatif, terutama dalam merespon krisis awal yang muncul dan membentuk Dewan Keamanan.

Dewan, yang resolusinya terikat secara hukum, sementara resolusi Majelis bersifat rekomendasi, tidak berubah selama beberapa dekade, dengan 5 anggota permanen pemegang hak veto - Cina, Perancis, Rusia, Britania Raya, dan Amerika Serikat - serta 10 anggota tidak tetap tanpa hak veto yang terpilih untuk periode 2 tahun. Pembicaraan formal untuk pembaharuan kembali telah berjalan selama lebih dari 18 tahun.

“Tidak ada rasa malu untuk mengakui bahwa setelah 6 dekade organisasi kita butuh pembaharuan,” kata Al-Nasser.

Pada prioritas ketiga, mengembangkan pencegahan bencana dan respon, beliau mengutip bencana alam dan bencana buatan yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda. “Populasi di seluruh dunia sedang mengalami kerentanan yang meningkat, ketidakamanan pangan, dan krisis kesehatan serta pendidikan,” ujar beliau. Guna mengemukakan isu-isu kritis dari permasalahan ini, kita harus meningkatkan kerja sama di antara para pelaku.

Pada perihal terakhir, pembangunan yang berkelanjutan dan kesejahteraan global, beliau menekankan kedudukan tinggi dari Tujuan Pembangunan Milenium PBB (MDGs), delapan target ambisius yang dicanangkan pada tahun 2000 ditujukan untuk memberantas kelaparan dan kemiskinan, kematian ibu dan bayi, sejumlah penyakit, serta kurangnya akses untuk pendidikan dan kesehatan pada tahun 2015.

“Dengan tenggat waktu untuk mencapai MDGs yang semakin dekat, dan sebagaimana kita menghadapi kekacauan ekonomi global, meningkatkan pemerintahan global, dan menemukan modalitas pembiayaan yang inovatif akan tetap berada dalam agenda kita,“ beliau mengatakan, mengutip tantangan perubahan iklim dan urgensi dalam hal menyelesaikan masalah krisis finansial global. ”Tidak ada yang bisa menyelesaikan permasalahan ini sendiri dan PBB seharusnya berada di forum sentral untuk mendiskusikan permasalahan ini. ”

Dalam pidato yang terpisah, Al-Nasser memuji Hammarskjöld sebagai pionir dari diplomasi pencegahan, usaha untuk memecahkan krisis sebelum mereka menjadi berbahaya dan tak tercegahkan. “Hammarskjöld adalah pencetus pertama dalam hal pembentukan metode operasi PBB,” ujar beliau.

“Hammarskjöld menjadi pengendali tekanan dibalik peresmian pertama dari Pasukan Darurat PBB, didedikasikan untuk mengamankan dan memonitor gencatan dari perseteruan di Terusan Suez ¬– sebuah pendekatan yang sekarang adalah fungsi inti dari aktivitas kita - yang saat ini kita kenal dengan ‘penjaga perdamaian’.

Memuji pendahulunya, Sekretaris-Jenderal Ban Ki-Moon memberitahu 193 Negara Anggota: “Tidak ada yang lebih tepat pada saat waktu yang sedang kacau ini selain merefleksikan kehidupan dan kematian Dag Hammarskjöld.. kita terinspirasi oleh kekuatan dari sanksi dan kita berjanji untuk membawa permasalahan ini ke PBB, bahwa beliau tewas karena mempertahankannya.”

Beliau mengemukakan bahwa salah satu dari penjatuhan sanksi oleh Hammarskjöld yang paling berat adalah PBB bukan hanya untuk kekuatan besar tetapi yang lainnya, negara yang lebih kecil dan lebih lemah, terutama negara independen Afrika yang baru.

“Kata-kata beliau terdengar benar sampai saat ini. Alasan keberadaan PBB telah diuji hingga saat ini di Libya dan di Pantai Gading,” kata Ban, mengacu kepada dua negara di Afrika Barat dimana PBB baru-baru ini membantu mempromosikan demokrasi setelah perang sipil. “Dalam permasalahan ini dan lainnya, kita memihak demokrasi, keadilan, dan berada di sisi masyarakat.”

Minggu depan Majelis akan mengadakan Debat Umum tahunan, ketika para pemimpin dunia akan berkumpul untuk mendiskusikan kunci dari permasalahan global.

Al-Nasser memberitahu pada konferensi pers sebelumnya bahwa tema utama adalah mediasi. “Ini adalah isu yang tepat waktunya,” ujarnya. “Dunia ini sedang melewati saat-saat yang sulit. Diplomasi diperlukan saat ini. Itu sangat penting.”

Diterjemahkan Oleh Brenda Gracia Susanto