PBB luncurkan percakapan global sebelum konferensi pembangunan berkelanjutan

 

22 November 2011 – Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Selasa (22/11) meluncurkan sebuah kampanye sebelum konferensi pembangunan berkelanjutan (Rio+20) pada bulan Juni tahun depan, mengundang pemerintah-pemerintah, organisasi-organisasi non-pemerintah (NGOs) dan orang-orang dimanapun untuk terlibat dalam percakapan global mengenai komunitas yang mereka ingin lihat di masa yang akan datang.

“Pembangunan berkelanjutan adalah sebuah prioritas dikarenakan alasan yang sederhana – hal ini melintasi seluruh tantangan dan prioritas,”  Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon mengatakan pada sebuah pengarahan pers pagi ini. “ Kita tahu bahwa kita menghadapi – ketidakamanan pangan, kelangkaan air, kelangkaan energi, perubahan iklim, meningkatnya emisi karbon dan laut yang tidak sehat – semua ini adalah tantangan utama yang harus kita sampaikan.”

Kampanye - – Rio+20: The Future We Want – bertujuan untuk mendorong masyarakat memimpikan bagaimana masyarakat dapat membangun sebuah masa depan yang mempromosikan kemakumuran bagi semua tanpa mengurangi sumber daya alam planet, dan untuk menumbangkan ide mereka melalui berbagai cara – foto, surat, esai dan gambar – yang akan disatukan kedalam bentuk pameran pada konferensi tahun depan, yang akan diadakan di Rio de Janeiro, Brasil.

“Sebuah kesempatan seperti Rio+20 tidak sering terjadi,” tutur Ban. “Konferensi Rio+20 menawarkan kepada kita sebuah kesempatan unik untuk membahas tantangan yang kita hadapi dan pemecahannya yang dapat kita telusuri.... ini sebuah kesempatan untuk memvisualisasikan dan merencanakan masa depan yang kita inginkan.

Konferensi, akan dihadiri oleh para pemimpin dunia dan pakar-pakar lingkungan, mencari jalan untuk memperbaraui komitmen untuk pembangunan berkesinambungan, menilai apa yang sudah tercapai saat ini, dan menyampaikan berbagai tantangan yang baru.

“Rio+20 adalah kesempatan terbaik kita untuk menentukan jalan menuju masa depan yang berkelanjutan,” tutur Sekretaris-Jenderal Konferensi Sha Zukang.

“Para pemimpin dunia bersama-sama dengan ribuan peserta dari sektor swasta, NGO dan kelompok lainnya akan bertemu untuk membahas bagaimana caranya untuk mengurangi kemiskinan, memajukan kesetaraan sosial dan menjamin perlindungan terhadap lingkungan di dunia yang semakin sempit.”

Sha juga mengatakan bahwa fokus kepada pembangungan ekonomi hijau kini semakin penting, saat dunia menghadapi krisis ekonomi global.

“Ekonomi hijau dapat membantu mempercepat pencapaian menuju pembangunan berkesinambungan dan mengurangi kemiskinan serta mengubah orientasi pengambilan keputusan publik dan swasta agar merefleksikan, dan menghormati, sumber daya alam.

“Hal tersebut dapat menjadi cara untuk membina pertumbuhan ekonomi dan melindungi lingkungan dengan mempromosikan solusi saling menguntungkan serta dapat pula menjadi sebuah cara untuk melibatkan masyarakat miskin sebagai peserta aktif, dan penerima manfaat utama.

Kiyo Akasaka, Wakil-Sekretaris-Jenderal untuk Komunikasi dan Informasi Publik, mengatakan bahwa salah satu obyektif dari kampanye adalah untuk mengenalkan kepada publik ruang lingkup dari pembangunan berkesinambungan dan meningkatkan kesadaran perubahan dapat mengubah masyarakat.

“Kita dapat melakukan lebih banyak untuk membawa pembangunan berkesinambungan keluar dari kerangka abstrak dan menjadikan sebuah kenyataan bagi masyarakat,” tutu Akasaka.

“Kami perlu untuk memperlihatkan, dibandingkan sebelumnya, bahwa sangat memungkinkan sebuah pembangunan yang menghasilkan kemakmuran bagi semua dan meningkatkan kualitas hidup saat melindungi lingkungan,” beliau menambahkan.

Sebagai bagian dari kampanye, PBB meluncurkan sebuah website yang menyediakan berbagai informasi mengenai berbagai kunci utama pembangunan berkesinambungan, termasuk perkotaan, ketahanan terhadap bencana, energi, pangan, lapanganpekerjaan, laut dan air. Website tersebut juga memiliki tujuan sebagai pusat informasi online dimana masyarakat dapat mengirimkan ide-ide dan komentar serta membahas masalah mengenai pembangunan berkelanjutan.

 

Diterjemahkan oleh Marita Kurniasari Permata Dewi