![]() |
|
Pemuda dunia menghadapi krisis pekerjaan yang memburuk, laporan baru PBB mengatakan |
||||
19 Oktober 2011- Laporan baru oleh agensi buruh PBB memperingatkan adanya krisis pekerjaan baik di negara maju maupun di negara berkembang, dengan orang-orang muda berumur 15 sampai 24 tahun menemukan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan prospek masa depan yang redup. Seperti rilis "Tren Ketenagakerjaan Global untuk Remaja: 2011," Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengemukakan bahwa krisis ekonomi global baru-baru ini menyebabkan peningkatan "secara substansial" dalam tingkat pengangguran kaum muda, membalikkan tren yang menguntungkan sebelumnya selama masa dekade lalu. Pada puncak krisis periode tahun 2009, tingkat pengangguran pemuda global melihat adanya peningkatan tahunan terbesar dalam catatan, naik dari 11,8 persen menjadi 12,7 persen antara tahun 2008 dan 2009 - peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya adanya 4,5 juta pemuda yang menganggur di seluruh dunia. |
||||
Peningkatan rata-rata dari periode pra-krisis (1997-2007) adalah kurang dari 100,000 orang per tahun. Laporan mengatakan bahwa angka mutlak dari pengangguran kaum muda sedikit menurun sejak puncaknya di tahun 2009 – dari 75.8 juta menjadi 75.1 juta pada akhir 2010, penurunan sebanyak 12.7 persen – dan diperkirakan menurun hingga 74.6 juta di tahun 2011, atau 12.6 persen. Agensi memperingatkan generasi pekerja muda yang “terluka” dan rasa frustrasi yang terus bertumbuh pada jutaan remaja di seluruh dunia yang menghadapi berbagai bahaya akan tingkat pengangguran yang tinggi, ketidakaktifan yang meningkat dan pekerjaan berbahaya. Jika pengangguran kaum muda diperiksa secara khusus, laporan menyatakan, salah satunya mungkin akan salah menebak bahwa kaum muda di Asia Selatan-Sub Sahara lebih baik dibandingkan dengan Negara maju, disaat faktanya tingkat pekerjaan tinggi-bagi-rasio populasi kaum muda di daerah-daerah paling miskin menandakan bahwa orang yang miskin tidak mempunyai pilihan selain bekerja. “Ada orang-orang yang jauh lebih muda di seluruh dunia yang terhambat dalam situasi kemiskinan pekerjaan dibandingkan dengan tanpa pekerjaan atau mencari pekerjaan,” laporan menunjukkan. Laporan mencatat pula bahwa frustasi kolektif diantara kaum muda telah menjadi faktor yang menyulut gerakan protes di seluruh dunia tahun 2011, seiring meningkatnya kesulitan bagi orang-orang muda untuk menemukan apapun selain bekerja sambilan dan bekerja sementara. Laporan juga menambahkan bahwa “ketidakberuntungan dari generasi memasuki pasar tenaga kerja pada tahun-tahun Resesi Besar tidak hanya membawa ketidaknyamanan dari pengangguran, setengah pengangguran dan tekanan bahaya sosial berhubungan dengan pengangguran yang berkepanjangan dan ketidakaktifan, tetapi juga adanya potensi konsekuensi jangka panjang dalam konteks upah yang lebih rendah di masa depan dan ketidakpercayaan dari sistem politik dan ekonomi. “Statistik baru ini merefleksikan frustasi dan kemarahan yang jutaan kaum muda di seluruh dunia rasakan”, tutur Jose Manuel Salazar – Xirinachs, Executive Director dari Sektor Pekerjaan ILO . Beliau mencatat bahwa pemerintah berjuang keras untuk menemukan solusi inovatif melalui intervensi pasar tenaga kerja seperti menangani ketidaksesuaian keterampilan, dukungan pencarian kerja, pelatihan wiraswasta dan subsidi untuk merekrut pekerjaan. “Langkah ini dapat membuat perbedaan, tetapi akhirnya pekerjaan harus lebih banyak datang dari luar pasar tenaga kerja yang menargetkan untuk menghilangkan hambatan pemulihan pertumbuhan seperti mempercepat perbaikan sistem keuangan, restrukturisasi bank dan rekapitalisasi untuk peluncuran kembali pinjaman kecil- dan usaha menengah, dan kemajuan nyata dalam keseimbangan permintaan global,” tutur beliau. Laporan menawarkan serangkaian langkah kebijakan untuk mempromosikan ketenagakerjaan muda, termasuk mengembangkan strategi yang terintegrasi bagi pertumbuhan dan penciptaan lapangan pekerjaan dengan fokus pada kaum muda serta meningkatkan kualitas pekerjaan dan berinvestasi pada kualitas pendidikan dan pelatihan. Barangkali yang terpenting dari semuanya, menurut laporan, adalah untuk mengejar keuangan dan kebijakan ekonomi makro yang menargetkan untuk menghilangkan hambatan-hambatan bagi pemulihan ekonomi.
Diterjemahkan oleh Melissa Santoso |
||||
|
||||