![]() |
|
Pejabat PBB: Perkotaan dalam garis depan perlawanan global terhadap perubahan iklim |
||||
3 Oktober 2011 - Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Senin (3/10) menghimbau komunitas internasional untuk melakukan aksi terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim pada daerah perkotaan di seluruh dunia. Mereka mengingatkan bahwa pada tahun 2050 nanti, dampak perubahan iklim dapat membuat lebih dari 200 juta orang terusir dari tempat tinggal mereka. Tetapi para pejabat tersebut juga mengemukakan bahwa selain memiliki risiko yang besar dari perubahan iklim, perkotaan juga memiliki solusi untuk memerangi dampaknya. Memperingati Hari Habitat Dunia, yang tahun ini bertemakan "Kota dan Perubahan Iklim," Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon memingatkan bahwa ada hubungan “nyata dan berpotensi mematikan" antara urbanisasi dan perubahan iklim. |
||||
"Naiknya permukaan laut adalah dampak utama perubahan iklim dan merupakan masalah yang mendesak," ujar beliau, dalam pesan yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris-Jenderal Asha-Rose Migiro dalam pertemuan tingkat tinggi di New York. Ban menambahkan, saat ini, dengan adanya 60 juta orang yang hidup hanya satu meter dari permukaan laut, kota-kota di seluruh dunia yang terletak di pesisir pantai beresiko dibanjiri air laut yang meluap. Tetapi beliau mengemukakan bahwa kota-kota yang menghadapi ancaman yang serius tersebut juga merupakan rumah bagi tindakan inovatif membantu memerangi perubahan iklim. Sekretaris-Jenderal menyerukan kepada masyarakat global untuk mematuhi "tantangan 50-50-50" - referensi untuk perkiraan ahli yang menyatakan pada tahun 2050, populasi global akan mengalami peningkatan sebesar 50 persen dari tingkat 1999, sedangkan emisi gas rumah kaca harus dapat menurun sebesar 50 persen. Margareta Wahlstrom, Perwakilan Khusus Sekretaris -Jenderal untuk Pengurangan Resiko Bencana, juga menunjukkan bahwa walikota dan walikotamadya di seluruh dunia ada di garis depan dalam memerangi bencana yang disebabkan iklim. “Kota saat ini penuh sesak dan mereka memiliki kesempatan mengembangkan skala ekonomi yang memungkinkan dikuranginya dampak perubahan iklim. Di sisi lain, urbanisasi yang terjadi juga merupakan tantangan tersendiri,” kata Wahlstrom, yang menyerukan pemerintah dan sektor swasta untuk bekerja lebih erat dan cepat dalam upaya untuk mengurangi risiko yang dihadapi daerah perkotaan. Beliau juga mengumumkan bahwa 841 kota dan kotamadya telah bergabung dengan inisiatif "Membangun Daya Tahan Kota" , yang diluncurkan oleh Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) sekitar setahun yang lalu dalam upaya untuk mengurangi resiko perkotaan dari bencana terkait iklim. Dalam pernyataannya, Joan Clos, Direktur Eksekutif Program Pemukiman PBB (UN-HABITAT), mengusulkan bahwa pemusatan aktivitas ekonomi di daerah perkotaan membuat upaya menangani emisi dan dampak perubahan iklim menjadi lebih murah dan cepat. Sementara itu, Presiden Majelis Umum Nassir Abdulaziz al-Nasser, menekankan bahwa kota-kota di negara berkembang menanggung beban dari dampak perubahan iklim. "Jelaslah bahwa negara berkembang terkena dampak paling berat," Al-Nasser mengatakan. "Ini mempengaruhi keseluruhan pembangunan mereka, termasuk kemampuan mereka untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)." Dalam pernyataan terpisah, Pelapor Khusus PBB tentang Perumahan, Rolnik Raquel dan Pelapor Khusus PBB tentang Pengungsi Internasional Chaloka Beyani menggarisbawahi akibat buruk dari perubahan iklim terhadap permukiman informal dan perumahan di bawah standar. "Negara-negara dan komunitas internasional tidak dapat lagi mengabaikan kerentanan pemukim informal terhadap bencana yang diakibatkan perubahan iklim, dan meningkatnya risiko yang mereka hadapi,” mereka memperingatkan, lebih lanjut menekankan bahwa sepertiga dari populasi dunia tinggal di daerah kumuh yang rentan terhadap bahaya lingkungan yang serius. Menarik perhatian kepada pentingnya pohon dalam penguatan lanskap perkotaan, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), menyoroti peran hutan kota dalam melindungi dari angin kencang dan banjir, serta menyangganya dari cuaca panas. "Praktek yang baik di hutan kota dan hutan pinggiran kota dapat berkontribusi untuk membangun sebuah kota ulet dalam hal mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim," kata Asisten Direktur-Jenderal Kehutanan FAO, Eduardo Rojas-Briales, yang menyerukan kepada negara-negara untuk lebih memperhatikan pengelolaan hutan kota seluruh dunia.
Diterjemahkan oleh Brenda Gracia |
||||
|
||||