Rakyat Libya harus bersatu dan berdamai setelah Qadhafi dilaporkan tewas-Ban

 

20 Oktober 2011- Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon pada ahari Kamis (20/11) memanggil semua pihak di Libya  untuk meletakkan senjata mereka dan bekerja bersama-sama secara damai untuk membangun negara Afrika Utara di tengah laporan bahwa Kolonel Muammar al-Qadhafi telah dibunuh.

“Jelas, hari ini, Kamis (20/11), ditandai sebagai transisi bersejarah bagi Libya, “ Ban menuturkan di Markas Besar PBB di  New York, bereaksi terhadap laporan tewasnya pemimpin Libya dan akhirn dari pertikaian di Sirte dan kota lainnya.

“Pada hari-hari mendatang, kita akan menyaksikan adegan perayaan, serta kesedihan bagi mereka yang kehilangan begitu banyak,” beliau menyatakan.

“Tetapi mari kita mengenali, segera, bahwa ini hanya akhir dari sebuah awal. Jalan di depan bagi Libya dan orang-orangnya akan sulit dan penuh tantangan.”

Pasukan pro-Qadhafi dan pemberontak telah terlibat pertikaian selama berbulan-bulan setelah gerakan pro-demokrasi muncul di awal tahun, seperti menyaksikan pemberontakan populer di bagian lain dari Timur Tengah dan Afrika Utara.

Ban menekankan bahwa sekarang adalah waktunya bagi rakyat Libya untuk bersatu, dan bahwa mereka hanya menyadari janji di masa depan melalui persatuan nasional dan rekonsiliasi.

“Para kombatan di semua pihak harus meletakkan senjata mereka dalam damai,” tutur beliau. “Inilah waktunya untuk memulihkan dan membangun, untuk semangat kemurahan hati – bukan membalaskan dendam.”

Sebagai otoritas transisi Libya mempersiapkan jalan bagi pemilihan umum dan mengambil langkah lain menuju pembangunan bangsa baru mereka, “inklusi dan pluralisme harus menjadi semboyan,” tambah beliau.

Di pernyataan terpisah, Ban memberikan penghormatan bagi rakyat Libya karena kesabaran mereka dan keberanian melalui semua rasa sakit yang mereka alami, dan menyampaikan belasungkawa dari PBB untuk keluarga mereka yang gugur dalam perjuangan untuk kebebasan.

“Libya saat ini menutup babak yang menyakitkan dan tragis dan memulai yang baru berdasarkan rekonsiliasi nasional, keadilan, penghormatan atas hak asasi manusia dan aturan hukum,” tutur beliau, menambahkan bahwa “jalan di depan penuh dengan tantangan, tetapi juga kesempatan.”

PBB mulai mengirimkan staf-nya ke Misi Pendukung PBB di Libya (UNSMIL) bulan lalu, yang di kepalai oleh Utusan Khusus Sekretaris-Jenderal, Ian Martin. Misi tersebut, bermarkas di ibu kota, Tripoli, akan membantu para pihak berwenang dalam mengembalikan keamanan publik, rencana untuk pemilihan dan menjamin pengadilan transnasional.

Martin, saat berbicara kepada para per di New York via video-link dari Tripoli, mengatakan bahwa hari Kamis (20/10) merupakan hari yang bersejarah dan mungkin “kunci dari sebuah transisi.”

Beliau mengatakan bahwa begitu Dewan Transisi Nasional (NTC) menyatakan secara resmi kemerdekaan, jalan menuju ke depan dimulai dengan pembentukan pemerintahan internal, pemilihan dewan nasional sebagai dasar dari pemerintahan dengan legitimasi demokrasi secara penuh dan merancang sebuah konstitusi yang baru.

“Masyarakat Libya-lah yang telah membuat revolusi, dengan para pemuda dan perempuan berada di garis depan, yang akan memimpin jalan,” Martin menyatakan. “Tapi mereka telah meminta PBB untuk memainkan peranan penting dalam membantu mereka.”

Martin menekankan bahwa, meski terjadi perayaan, tidak ada yang boleh meremehkan skala dari tantangan yang akan dihadapi Libya di masa depan.

Beliau mengatakan bahwa banyak yang masih berduka, banyak pula yang terluka parah, serta mereka yang trauma bukan hanya akibat apa yang terjadi pada pertempuran baru-baru ini, tetapi juga oleh penyiksaan, menghilang secara paksa dan dihukum tanpa melalui pengadilan selama rezim Qadhafi.

Pada waktu yang bersamaan, Martin mengatakan bahwa Libya kini adalah sebuah negara yang memiliki rasa hormat tinggi terhadap hak asasi manusia, akuntabilitas dan transparansi, semua ini adalah kebalikan dari apa yang selama ini mereka alami.

“Dan nilai-nilai tersebut, nila-nilai PBB, kami akan membantu mereka dengan sebaik-baiknya dalam mencapainya.”

 

Diterjemahkan oleh Marita Kurniasari Permata Dewi