Sekretaris-Jenderal PBB dan Pemimpin Kiribati ingatkan ancaman perubahan iklim di Kepulauan Pasifik

 

5 September 2011 – Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon dan Presiden Kiribati, Anote Tong, pada hari Senin (5/9) menekankan bahwa perubahan iklim menimbulkan ancaman paling serius terhadap kehidupan, keamanan dan kelangsungan hidup warga negara dan penduduk wilayah Pasifik yang lebih luas, mengatakan fenomena ini mengganggu upaya untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

Kedua pemimpin menegaskan adanya kebutuhan yang mendesak akan tindakan internasional untuk mengurangi emisi dari gas rumah kaca yang berbahaya serta menggarisbawahi kebutuhan akan pembiayaan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim yang mampu membiayai implementasi dari program kritikal dalam menghadapi dampak dari perubahan iklim di komunitas tersebut.

Ban dan Tong menyoroti kerentanan dan kebutuhan pengembangan Pulau Kecil Negara Berkembang (SIDS), menekankan pentingnya “meningkatkan koherensi, koordinasi dan respon” untuk mendukung negara-negara tersebut.

Mereka juga mencatat langkah-langkah yang dilakukan Kiribati, termasuk pengelolaan hutan bakau, inisiatif konservasi keanekaragaman hayati utama seperti Area Lindung Kepulauan Phoenix, pengelolaan sumber daya air dan upaya untuk meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir.

Tong menyambut kunjungan pertama Sekretaris Jenderal PBB ke Kiribati dan mengungkapkan rasa terima kasihnya atas upaya Ban untuk menggembleng dunia dalam mengatasi perubahan iklim.

Ban mengucapkan selamat kepada Tong untuk partisipasi aktif beliau dalam  upaya multilateral dalam mengatasi perubahan iklim, terutama dengan mempromosikan dialog di antara para Pihak untuk Konvensi Kerangka Kerja PBB dalam Perubahan Iklim (UNFCCC).

Sekretaris-Jenderal mengakui nilai inisiatif seperti Konvensi Perubahan Iklim Tarawa, yang diselenggarakan oeleh Kiribati pada bulan November tahun lalu menjelang Konferensi Perubahan Iklim Cancún di Mexico.

Selama dua hari kunjungan Ban ke Kiribati, beliau juga bertemu secara terpisah dengan Ketua Parlemen, Taomati Iuta, dan pemimpin oposisi, Rimeta Beniamina.

Diskusi dalam pertemuan tersebut difokuskan pada tantangan dan konsekuensi dari perubahan iklim. Ban mengatakan bahwa beliau akan melaporkan kepada para pemimpin dunia tentang pengalaman beliau mengenai dampak perubahan iklim dan mendesak kedua pejabat tersebut untuk berbuat lebih banyak untuk mengatasi fenomena ini.

Sekretaris-Jenderal juga menekankan pentingnya keterlibatan beliau dalam upaya meningkatkan status perempuan dan memberdayakan mereka, termasuk melalui penunjukan kepada jabatan yang tinggi.

Selain mengadakan pertemuan dengan Amberoti Nikora, Menteri Lingkungan Hidup, Tanah, dan Pembangunan Agrikultur, Ban juga bertemu dengan komunitas lokal, dan bercakap – cakap dengan warga desa, termasuk anak – anak, mengenai ketakutan mereka dan kepeduliannya terhadap akibat perubahan iklim di pulau berdataran rendah.

Pada akhir kunjungan, Ban dan rekan-rekannya bergabung bersama Presiden Tong dan anak-anak dari pulau untuk menanam bakau di sebuah pantai di Stewart Causeway, untuk membantu melindungi daerah tersebut dari akibat naiknya tingkat permukaan laut.

Beliau menyampaikan kepada wartawam bahwa menanam bakau adalah salah satu cara yang paling murah dan paling pasti untuk melindungi lingkungan pesisir pantai.

“Menanam bakau mungkin sederhana dan (terlihat) tidak seberapa. Tetapi hal ini bahkan dapat membantu perekonomian. Menanam bakau memberikan pemasukan,” kata Ban. “Menanam bakau memberikan kita sebuah pelajaran yang baik yaitu jika Anda peduli, jika kita peduli kepada alam, maka kita dapat membuat planet bumi ini lebih terpelihara. Menjadi lingkungan hidup yang berkelanjutan,” beliau menambahkan.

Menyikapi pertanyaan dari seorang wartawan, Sekretaris-Jenderal menyebut Kiribati sebagai negara yang berada di “garda depan” dalam hal perubahan iklim. “Saya sendiri sudah melihat ancaman nyata yang berdampak pada rakyat. Rakyat takut akan masa depan mereka, terutama anak – anak muda,” ia berkata.

“Saya menghimbau para pemimpin dunia untuk bertindak sekarang. Gelombang pasang yang tinggi menunjukan bahwa ini adalah waktunya untuk bertindak. Saya sangat terkejut melihat dampak dari gelombang pasang yang tinggi ini, membanjiri desa – desa dan jalanan. Hal ini bisa dicegah jika kita bertindak sekarang.”

“Kita harus tinggal dengan alam, tetapi jika kita menggunakan kebijaksanaan kita dan bertindak sekarang, kita bisa hidup harmonis dengan alam. Itu adalah pesan yang akan saya bawa ke Majelis Umum PBB, saya akan bawa negosiasi yang dilakukan di Kerangka Konvensi Perubahan Iklim PBB ke Durban pada Desember nanti, saya akan mengusahakannya ke pertemuan Rio +20 tahun depan,” Sekretaris-Jenderal menambahkan.

 

Diterjemahkan oleh Marita Kurniasari Permata Dewi