Sudan: Kepala Bagian Bantuan PBB ingatkan akan Kelangkaan Bahan Bantuan di Kordofan Selatan

 

24 Juli 2011 – Kepala bagian bantuan kemanusiaan PBB pada hari Minggu (24/7) mengutarakan keprihatinannya terhadap kurangnya persediaan bahan bantuan bagi penduduk yang terperangkap kerusuhan yang baru-baru ini terjadi di Kordofan Selatan, Sudan. Beliau mengingatkan bahwa akibatnya akan sangat buruk jika pekerja kemanusiaan tidak diizinkan untuk memperbaharui persediaan.

“Anak-anak, lansia, dan kaum ibu beresiko mengalami kelaparan,” menurut Valerie Amos, Wakil Sekretaris-Jendral PBB untuk Masalah Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat PBB.

Ribuan orang terusir dari tempat tinggal mereka, dan tidak diketahui jumlah yang terbunuh sejak terjadinya pertempuran antara pasukan Pemerintah Sudan dan sayap utara dari Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM-N), yang ikut bertempur dalam perang sipil panjang yang berakhir pada tahun 2005.

Pejabat tinggi PBB telah berbicara mengenai tuduhan adanya kuburan massal, penghilangan paksa terhadap penduduk sipil, pembunuhan di luar hukum, dan penyerangan terhadap etnis tertentu.

Dalam pernyataannya pada hari Minggu (24/7), Amos mengungkapkan keprihatinannya atas ditahannya pasokan bahan bantuan untuk daerah Kordofan Selatan, yang berbatasan dengan Sudan Selatan yang baru merdeka, oleh SPLM-N.

“Rekan-rekan kemanusiaan, yang telah beroperasi di daerah ini sebelum terjadinya konflik, telah mendistribusikan bantuan darurat, termasuk pangan dan obat-obatan dasar ke 70.000 orang penduduk di daerah pegunungan Kordofan Selatan,” beliau menyatakan.

“Bagaimanapun juga, saya mengkhawatirkan bagaimana penduduk dapat bertahan hidup jika persediaan makanan darurat yang mereka terima habis. Konflik yang terjadi tidak memungkinkan mereka untuk bercocok tanam, dan mereka akan terus bergantung pada bantuan pangan darurat yang selama ini disediakan oleh badan kemanusiaan.”

Amos –yang menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai agar mengizinkan bantuan dibawa masuk- menekankan bahwa jika badan kemanusiaan tetap tidak diberikan akses ke penduduk, “Maka mereka tidak akan bisa memeriksa persediaan bantuan kemanusiaan, maupun mengetahui berapa banyak yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang rentan tersebut.”

Diterjemahkan oleh Anisa Menur