Suriah: Utusan PBB khawatirkan penggunaan kekerasan ‘berlebihan dan mematikan’ terhadap penduduk sipil

 

17 Agustus 2011 – Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengadvokasi hak anak-anak dalam konflik bersenjata pada hari Rabu (17/8) menyerukan otoritas Suriah untuk mengakhiri pertumpahan darah yang mewarnai aksi kekerasan pasukan keamanan Pemerintah terhadap demonstran sipil.

Radhika Coomaraswamy, Perwakilan Khusus Sekretaris-Jenderal untuk Anak dan Konflik Bersenjata, mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa “penggunaan kekerasan yang berlebihan dan mematikan” oleh pasukan keamanan “berdampak serius kepada penduduk sipil, termasuk anak-anak”.

Sebanyak 2.000 orang penduduk Suriah telah terbunuh dalam lima bulan terakhir, ketika sejumlah penduduk di seluruh negeri turun ke jalan untuk memprotes Pemerintah dan menuntut lebih banyak kebebasan.

Demonstrasi tersebut merupakan bagian dari gelombang pemberontakan yang melanda kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah, yang mengakibatkan runtuhnya rezim di Tunisia dan Mesir, dan terjadinya konflik di Libya.

Akhir minggu lalu, pasukan militer Suriah melakukan penyerangan besar-besaran ke kota pelabuhan Latakia, dan lusinan orang dikabarkan tewas.

“Kami mendapatkan informasi dari sumber terpercaya bahwa banyak anak terbunuh atau terluka dalam operasi keamanan melawan penduduk sipil di Suriah,” menurut Coomaraswamy.

“Ada juga tuduhan bahwa anak-anak mengalami penyiksaan oleh pasukan keamanan. Pihak negara berkewajiban melindungi mereka dalam setiap operasi militer, dan saya menyerukan otoritas Suriah untuk memenuhi kewajiban tersebut.”

Perwakilan Khusus tersebut juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi anak-anak pengungsi dan pengungsi internal (IDPs) yang mengungsi untuk menghindari kekerasan yang baru-baru ini terjadi, termasuk di antaranya pengungsi Palestina di kemah di Latakia.

Komentar Coomaraswamy ini melengkapi kekhawatiran yang diungkapkan pejabat PBB lainnya, termasuk Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon. Selain itu, Dewan Keamanan juga berencana membahas perkembangan terakhir di Suriah pada Kamis (18/8).

Di antara kekhawatiran yang memuncak mengenai kekerasan di Suriah, PBB telah menarik 26 staf internasional dan keluarga mereka dari negara tersebut untuk sementara.

Pada situasi normal, menurut seorang juru bicara PBB, organisasi internasional tersebut menempatkan 160 personel di Suriah.

 

Diterjemahkan oleh Anisa Menur