Tanduk Afrika: PBB tingkatkan usaha untuk membawa bantuan mendesak bagi jutaan orang yang membutuhkan

 

21 Juli 2011 - Badan PBB untuk Program Pangan Dunia (WFP) berkata pada hari Kamis (21/07) akan memulai pengangkutan udara dalam beberapa hari untuk menyediakan pasokan penting ke Somalia, yang membawa pukulan bagi krisis kemanusiaan di Tanduk Afrika, dan sedang bersiap-siap untuk membuka beberapa lapangan dan rute udara baru untuk membawa bantuan mendesak bagi jutaan orang yang membutuhkan.

Pengumuman tersebut datang sehari setelah PBB mendeklarasikan kelaparan di dua wilayah dari selatan Somalia karena kekeringan parah dalam beberapa dekade, dan meminta sumber daya yang mendesak untuk menyediakan bantuan. Hal ini adalah pertama kalinya sejak tahun 1991-92 bahwa PBB telah mendeklarasikan kelaparan di sebagian wilayah Somalia.

“Terdapat situasi antara hidup dan mati di Somalia,” kata Eksekutif Direktur WFP Josette Sheeran ketika dalam sebuah kunjungan ke ibukota Somali, Mogadishu.

“Di sebuah lokasi pasokan makanan di Mogadishu, dimana kita memasok bahan pangan untuk makanan siap santap, saya bertemu seorang perempuan yang kehilangan anaknya ketika mereka sedang berjalan keluar dari area kelaparan untuk mencari makanan,” beliau menambahkan.

Hampir setengah dari penduduk Somali - 3.7 juta orang - saat ini diestimasikan mengalami krisis, dengan estimasi sekitar 2.8 juta dari mereka berada di Selatan.

WFP saat ini meraih 1.5 juta penduduk di Somalia, dan sedang berusaha untuk meraih sebesar 2.2 juta penduduk di wilayah selatan negara yang sebelumnya tidak dapat dicapai.

WFP menyambut pernyataan terbaru dari kelompok insurgensi Al-Shabaab, yang mengontrol area selatan Somalia, bahwa bantuan kemanusiaan saat ini akan diizinkan ke wilayah negara tersebut.

“Kita sedang mengamati bagaimana cara terbaik bagi kami untuk menyediakan pasokan yang dapat menyelamatkan hidup secepat mungkin kepada mereka yang berada di pusat kelaparan di daerah Selatan,” tutur Sheeran. “Warga di wilayah selatan Somalia terlalu sakit dan lemah untuk pergi mencari makanan, maka kami perlu untuk membawanya kepada mereka.”

WFP sedanga bersiap-siap untuk membuka lapangan dan rute udara baru menuju pusat zona kelaparan - selatan Bakool dan bagian bawah Shabelle - untuk mendirikan kondisi operasi yang diperlukan, termasuk mereka yang akan mengamankan keamanan dari personil kemanusiaan.

“Situasi di Somalia sangat kritis,” tekan kepala WFP.

Juga berkunjung ke Mogadishu pada hari Kamis (21/07) adalah Wakil- Sekretaris-Jenderal PBB untuk Urusan Politik, B. Lynn Pascoe, yang bergabung dengan Utusan Khusus Sekretaris-Jenderal untuk Somalia, Augustine Mahiga.

Kunjungan tersebut, bermaksud untuk memperlihatkan solidaritas dengan penduduk Somalia ditengah-tengah penderitaan karena kekeringan, termasuk pertemuan dengan pemimpin Somali pada berbagai isu politik seperti berakhirnya periode transisional.

 “Ini adalah kelaparan yang parah, anak-anak benar-benar sekarat di jalan, terdapat malnutrisi yang menyebar, kita semua sangat terpengaruh dan hal ini akan menjadi fokus perhatian yang besar dalam bulan-bulan ke depan,” tutur Pacsoe saat konferensi pers di Nairobi, Kenya, setelah kepulangannya dari Somalia.

 “Selama perjalanan saya ke Mogadishu, pemimpin Somali berkata dengan jelas bahwa kejadian ini akan menjadi prioritas paling utama,” beliau menyatakan. “Mereka menekankan bahwa bantuan sangat diperlukan di Mogadishu karena jumlah pengungsi yang besar namun sangat khawatir mengenai situasi di wilayah lain negara tersebut.”

Konflik yang sedang berlangsung dan kekeringan yang terjadi baru-baru ini telah memaksa lebih dari 160,000 penduduk Somalia untuk mencari bantuan di negara-negara tetangga selama tahun ini, menuruk Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR). Kebanyakan dari mereka tiba di Djibouti, Ethiopia dan Kenya dalam keadaan yang sangat buruk - kelelahan, kurus dan mengalami malnutrisi yang parah.

“Mereka datang hampir dengan tangan kosong; hanya beberapa pakaian yang mereka punya dan beberapa jerigen,” kata UNHCR Paul Spiegel, yang baru-baru ini berada di area Dollo Ado, Ethiopia, dekat perbatasan Somalia, untuk bertemu dengan pendatang baru.

Dr. Spiegel, yang merupakan kepala UNHCR bagian Kesehatan Umum dan HIV, mengatakan bahwa rata-rata, antara 1,500 dan 2,000 orang-orang baru datang setiap harinya, beberapa dari mereka telah berjalan lebih dari satu bulan.

“Saya telah berkunjung ke banyak keadaan darurat sebelumnya - pada kenyataannya saya baru kembali dari dua bulan misi keadaan darurat di Pantai Gading - namun saya belum pernah melihat jumlah kematian dan malnutrisi yang sangat besar dalam beberapa tahun ini,” tutur beliau dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di website badan tersebut.

UNHCR telah meningkatkan usahanya dalam area untuk mengurangi waktu tunggu untuk pendaftaran pendatang baru, untuk meyakinkan bahwa orang-orang yang berada dalam pusat penerimaan dan transit menerima makanan hangat, dan menyediakan perawatan khusus bagi anak-anak dibawah umur lima tahun yang mengalami malnutrisi  sama seperti perempuan hamil dan menyusui.

Sementara itu, Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi António Guterres sedang berada di Jenewa, dimana beliau bergabung dengan Wakil-Sekretaris-Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan Valerie Amos dan Penasihat Khusus untuk Afrika, Cheick Sidi Diarra, untuk acara khusus di krisis Tanduk Afrika yang diselenggarakan oleh Dewan PBB untuk Ekonomi dan Sosial (ECOSOC)

Guterres menyarankan kebijakan “membuka pintu dan membuka hati” kepada negara-negara tetangga yang telah membuka perbatasan mereka bagi penduduk Somali yang pergi dari negara mereka, menambahkan bahwa komunitas internasional harus memobilisasi dukungan untuk membantu negara-negara ini dan untuk menghindari krisis serupa dimasa mendatang.

Diterjemahkan oleh: Devi Natasia