Untuk pertama kalinya, angka penderita TB menurun – Laporan PBB

 

11 Oktober 2011 – Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan pada hari Selasa (11/10) bahwa untuk pertama kalinya jumlah orang yang menderita tuberkulosis (TB) setiap tahunnya menurun, tetapi mereka tetap mengingatkan bahwa kemajuan yang saat ini dicapai bisa terhambat oleh ketiadaan biaya.

Data baru, yang dipublikasikan dalam Laporan Kontrol Tuberkulosis Global 2011 milik  Badan Kesehatan Dunia (WHO), menunjukkan bahwa jumlah orang yang terjangkit TB menurun hingga 8.8 juta pada 2010, setelah memuncak hingga 9 juta di 2005.

Laporan tersebut juga mengemukakan bahwa angka kematian akibat TB menurun hingga 1.4 juta pada 2010, setelah sempat mencapai 1.8 juta pada 2003. Pada saat yang sama, laporan tersebut juga menyatakan bahwa kemajuan yang diperoleh saat ini terancam oleh kurangnya dana, terutama upaya untuk memerangi TB multi-drug-resistant (MDR-TB), salah satu jenis penyakit tersebut yang kebal terhadap obat-obatan TB standar.

Sementara jumlah pendanaan domestik yang dialokasikan untuk TB meningkat hingga 86 persen di seluruh dunia pada 2012, kebanyakan negara berpenghasilan rendah masih bergantung kepada pendanaan dari luar. Secara keseluruhan, banyak negara telah melaporkan adanya kekurangan dana sejumlah USD 1 miliar untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan pemberantasan TB pada 2012, dimana dana sejumlah USD 200 juta akan digunakan untuk mengatasi MDR-TB.

“Semakin sedikit orang yang meninggal akibat tuberkulosis, dan semakin sedikit yang jatuh sakit. Ini merupakan sebuah kemajuan besar,” menurut Sekretaris-Jenderal Ban Ki-moon.

“Tetapi ini bukan alasan untuk berpuas diri,” beliau menambahkan. “Jutaan orang masih tertular TB setiap tahunnya, dan terlalu banyak orang meninggal dunia. Saya mendorong diberikannya dukungan serius dan konsisten terhadap Kemitraan Stop TB untuk beberapa tahun mendatang.”

Didirikan pada 2001 untuk mengembangkan Inisiatif Stop TB yang diluncurkan oleh WHO, Kemitraan tersebut bertujuan memberantas TB sebagai sebuah masalah kesehatan masyarakat, dan pada akhirnya, untuk mencapai dunia yang bebas dari TB. Ia terdiri atas jaringan organisasi internasional, negara-negara, donatur dari sektor publik dan swasta, sekaligus pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Laporan tersebut menunjukkan bahwa angka kematian akibat TB menurun 40 persen antara 1990 sampai 2010, dan di semua kawasan kecuali Afrika, tetap konsisten mencapai penurunan kematian hingga 50 persen pada 2015.

Banyak dari kemajuan yang dilaporkan pada saat ini merupakan hasil dari usaha yang meluas di negara-negara besar, misalnya di Kenya dan Tanzania, dimana penderita TB diperkirakan telah berkurang banyak sejak dekade lalu setelah memuncak bersamaan dengan epidemi HIV.

Brasil juga melaporkan adanya penurunan yang signifikan dan konsisten sejak 1990, menurut WHO, sementara kemajuan yang dibuat oleh China bisa dibilang “dramatis”. Angka kematian akibat TB di China turun hingga hampir 80 persen, dari 216.000 pada 1990 menjadi 55.000 pada 2010.

“Di banyak negara, kepemimpinan yang kuat dan sumber pendanaan dalam negeri, dengan dukungan donatur yang kuat, telah menghadirkan perbedaan besar dalam upaya memberantas TB,” menurut Direktur-Jenderal WHO Margaret Chan.

“Tantangannya saat ini adalah untuk membangun berdasarkan komitmen tersebut, untuk meningkatkan usaha global –dan untuk memberikan perhatian lebih kepada ancaman multi-drug-resistant TB yang terus meningkat.”

Desember lalu, WHO mempromosikan sebuah metode tes baru untuk tuberkulosis, yang menjadi sebuah terobosan dalam diagnosis dan perawatan TB global, dengan memungkinkan diagnosis yang akurat hanya dalam 100 menit. Bandingkan dengan metode tes sebelumnya yang memakan waktu hingga tiga bulan.

Mario Raviglione, Direktur Departemen Stop TB WHO, menyatakan bahwa tes tersebut “merevolusi” diagnosis TB dengan adanya 26 negara yang menggunakan tes tersebut hanya 6 bulan setelah peluncurannya, dan setidaknya 10 negara lagi diharapkan akan mulai menggunakan metode tersebut mulai akhir tahun ini.

“Tetapi janji untuk mengetes lebih banyak orang harus disesuaikan dengan komitmen untuk mengobati semua yang terdeteksi. Akan menjadi skandal yang memalukan jika kita mendiagnosis pasien tanpa mengobatinya,” menurut Dr. Raviglione.

Diterjemahkan oleh Anisa Menur