Upaya bantuan di Tanduk Afrika harus diperluas lebih lanjut, kata kepala bantuan PBB

 

17 Agustus 2011 – Kepala Bidang Kemanusiaan PBB, pada Rabu (17/8) menekankan kebutuhan untuk meningkatkan usaha membantu jutaan orang yang menderita di Somalia dan Tanduk Afrika, memperingatkan bahwa lebih banyak nyawa yang akan hilang akibat kelaparan dan penyakit tanpa tindakan yang mendesak.

Sudah ada 3.2 juta orang di jurang kelaparan di Somalia, dimana PBB sudah mendeklarasikan dengan formal kelaparan di lima wilayah di bagian selatan dan pusat dari negara tersebut.
Ada sekitar 12.4 juta orang di wilayah yang lebih besar, meliputi Kenya, Djibouti dan Ethiopia, yang membutuhkan makanan dan bantuan kemanusiaan karena efek dari kekeringan parah dalam beberapa dekade ini.

“Kami telah menunjukkan, saya pikir, berapa banyak yang dapat dicapai bila badan-badan bantuan memberikan sumber daya yang mereka butuhkan dan dapat mencapai tempat dimana mereka dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut, kata Wakil Sekertaris-Jenderal dalam bidang Kemanusiaan Valerie Amos, yang baru kembali dari kunjungan selama 3 hari ke Kenya dan Somalia.

 “Tetapi kita dihadapkan dengan tetap meluasnya kelaparan di Somalia dan dengan skala seperti penderitaan, yang setiap usahanya harus dibuat dan dipertahankan dalam beberapa bulan mendatang,” beliau mengatakan di konferensi pers di New York.

Amos, Koordinator Tanggap Darurat PBB, mengatakan bahwa upaya bantuan PBB dan mitra-mitranya dipercepat.

“Makanan panas diberikan setiap hari untuk kira-kira 100.000 orang. Setengah juta orang mendapatkan air bersih, dimana ini penting untuk mencegah meluasnya kolera dan penyakit lainnya. Kampanye darurat untuk vaksinasi campak mencapai 88.000 anak-anak dan 46.000 wanita telah dilakukan.

“Namun, jelas bahwa kelaparan di Mogadishu telah menewaskan puluhan ribu orang dan akan membunuh lebih banyak jika kita tidak menambah skala usaha kita,” kata beliau.

“Kita membutuhkan suplai makanan dan nutrisi yang lebih banyak lagi, air, sanitasi dan peralatan yang higienis, dan pelayanan kesehatan untuk mereka yang sangat membutuhkan,” beliau menambahkan, sementara juga mencatat bahwa krisis ini tidak terbatas ke Somalia.

Menurut Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), ada sekitar 875.000 pengungsi Somali dan pencari suaka di negara-negara tetangga, dengan Kenya, Yaman, Ethiopia dan Djibouti menjadi tuan rumah untuk lebih dari 90 persen dari mereka. Sekitar 1,5 juta lebih masyarakat Somalia adalah pengungsi internal, paling banyak terdapat di wilayah selatan-tengah negara tersebut.

“Bahkan saat Kenya dan Ethiopia menghadapi dampak kekeringan dalam komunitas mereka sendiri, mereka menjadi tuan rumah dari puluhan ribu pengungsi Somalia yang melarikan diri dari konflik dan kelaparan dan saat ini tinggal di kamp yang luas namun penuh sesak,” kata beliau.
Di Ethiopia, lembaga kemanusiaan telah menyediakan bantuan makanan untuk 3.5 juta masyarakat Ethiopia dan 226.000 pengungsi. Di Kenya, 1,3 juta orang yang terkena kekeringan telah menerima bantuan makanan.

Sejuh ini donor telah menyediakan lebih dari $1.3 miliar untuk  upaya bantuan di Tanduk Afrika, tetapi kurang dari $1.2 miliar yang masih dibutuhkan.

“Masih banyak kehidupan yang harus dilindungi di Tanduk Afrika,” kata Amos.

.

Diterjemahkan oleh Ratna Kartika Sari